Pages

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Friday, September 28, 2012

Meraba Indonesia (Ulasan buku)

Buku ini seperti sambal. Pedas tapi bikin ketagihan. Catatan yang membuka mata tentang kenyataan Indonesia dari pinggiran. Sebuah buku yang mampu menangkap denyut kehidupan orang biasa yang mengisi wajah Indonesia. (Andy F Noya, Host Kick Andy)

ini cover depan dan belakangnya, serta pembatas halaman

Kalimat diatas adalah komentar Andy F Noya terhadap karya dari Ahmad Yunus. Sebuah buku berjudul Meraba Indonesia. Buku ini mengupas secara subjektif potret Indonesia dari pinggiran. Menelanjangi Indonesia secara nyata, dekat, dan menyentuh.

Monday, April 16, 2012

Dilematika UN

UN atau Ujian Nasional adalah sebuah ukuran yang dijadikan sebagai sebuah pedoman kelulusan siswa. Jika ingin lulus, raihlah hasil terbaik dalam UN dengan mendapat nilai diatas nilai minimal. Lantas bila siswa hanya terfokus kepada mata pelajaran yang diujikan dalam UN, apakah secara otomatis mata pelajaran lain dianggap sebagai anak tiri?


Dengan menciptakan saringan semacam UN ini sebagai satu-satunya filter dalam menentukan kelulusan siswa, bisa diasumsikan ada banyak siswa yang menghalalkan berbagai cara untuk berusaha lulus dan menggapai nilai yang (menurut mereka) cukup memuaskan. Menyontek, kerjasama dalam mengerjakan, hingga mencari bocoran kunci jawaban, sudah menjadi kegiatan rutin yang dihalalkan setiap tahunnya.


Inilah wajah pendidikan di negara kita. Inilah bentuk sistem pendidikan untuk mempersiapkan generasi penerus. Secara tersirat kalimat "harus lulus meskipun curang" selalu ditanamkan di benak para siswa yang melaksanaan UN setiap tahunnya.


Efektifkah?


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tuesday, March 13, 2012

Renungan: Antara Proses atau Hasil Akhir

Suatu ketika sempat terpikir dalam benak saya untuk mengulas lagi masalah pendidikan. Seperti biasanya saya mencoba melihat dari sudut pandang berbeda. Perebutan mahkota antara proses dan hasil. Berbicara masalah proses jauh lebih rumit. Hasil akhir bukan segalanya, justru proses mencari hasil akhir yang seharusnya lebih dilirik. Perebutan ini menimbulkan sebuah pertanyaan di akhir tulisan ini.



Saturday, August 6, 2011

Menyusuri Sejarah Di Ullen Sentalu


Sebuah tempat wisata yang bernama museum cenderung diselimuti oleh aura kebosanan. Itulah sebabnya sedikit sekali wisatawan yang datang berkunjung ke museum. Bangunan tua khas museum pun memberikan suasana yang kurang bersahabat terhadap pengunjung yang hadir. Namun bagaimana bila seandainya sebuah museum dikemas dengan bentuk segar yang membuat kita kembali ke masa lalu dengan penuh kekaguman? Apakah ada yang seperti itu? Tentu saja ada.

Di sebuah daerah yang bernama Kaliurang, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, selain wisata alamnya, terdapat juga wisata kebudayaan yang berbentuk sebuah museum. Museum Ullen Sentalu namanya. Museum ini berbeda dengan museum lainnya yang menggunakan bangunan tua. Bangunan museum ini adalah perpaduan bangunan artistik segar dengan nuansa klasik didalamnya. Isinya pun beragam, dari lukisan-lukisan, patung, sampai koleksi pribadi anggota kerajaan mataram. Menurut saya, bangunan ini lebih menyerupai galeri ketimbang

Monday, May 2, 2011

Selamat hari pendidikan



                2 Mei adalah hari pendidikan nasional sekaligus hari lahirnya Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan adalah sesuatu yang diperlukan oleh semua bangsa dan negara di muka bumi ini. Tentu dengan pendidikan kita merasa mempuanyai harga diri, menjadi seorang pemimpin, menjadi pemenang. Pemenang dalam menyelesaikan masalah, penghapus penindasan, dan pemberi pencerahan kepada saudara-saudara kita.

                Ki Hadjar Dewantara merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan formal di Indonesia. Dimana pada saatnya beliau hidup dan berjuang, terdapat pembatasan pendidikan. Hanya golongan tertentu saja yang boleh menerima pendidikan, hanya orang kaya dan orang terpandang saja yang bisa mengecap nikmatnya pendidikan. Beruntungnya beliau karena tergolong kaum ningrat keraton Yogyakarta sehingga mendapatkan hak untuk mengecap nikmatnya pendidikan di era kolonial Belanda. Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau bersama teman-temannya yang tergabung dalam tiga serangkai mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa.

                Sudah hampir seabad dari tanggal kelahiran Perguruan Nasional Taman Siswa, tepatnya 89 tahun. Waktu yang sudah cukup lama, lebih lama dibandingkan dengan umur kemerdekaan kita. Tapi ironis sekali, kualitas pendidikan kita masih kurang mumpuni. Memang ada wajib belajar 9 tahun, program pengentasan buta huruf, dan juga banyak didirikan universitas ternama disini. Tapi itu semua belum cukup untuk mengangkat kualitas pendidikan

Sunday, May 1, 2011

Polemik dana, antara Pemerintah, DPR, dan Rakyat


                Disini pemerintah terlihat kebingungan karena kekurangan dana untuk membangun infrastruktur transportasi. Ironis ya, disaat yang sama DPR mengaung-gaungkan pembangunan gedung baru. Dilihat dari urgensinya, tentu kita melihat lebih penting program pemerintah untuk membangun infrastruktur transportasi dibanding dengan pembangunan gedung DPR. Mau bagaimana pun gedung DPR kita masih layak digunakan untuk melakukan kegiatan penting seputar negara Indonesia. Gedung itu masih bisa berdiri kokoh dalam menunjang segala kegiatan wakil rakyat yang agak kurang bermoral tersebut.

                Sekilas banyak pihak menuduh ada indikasi tindak pidana korupsi dalam rencana pembangunan gedung tersebut. Tentunya sudah rahasia umum kalau ada praktik mark up dalam anggaran pembangunan gedung tersebut. Suara-suara miring telah berdatangan seiring dengan upaya DPR mewujudkan rencananya. Kasihan, suara mereka hanya dianggap sebagai angin lalu saja. DPR tetap tak gentar dalam mewujudkan ambisinya. Bahkan ketua DPR sampai-sampai mengeluarkan komentar tak sedap sekedar alasan agar rencana pembangunan tersebut tetap berjalan.

               Lantas bagaimana jika dana yang digunakan untuk pembangunan gedung DPR tersebut dialihkan untuk kegiatan lain yang lebih tepat. Sebut saja perbaikan infrastruktur pendidikan. Banyak daerah-daerah dipelosok negara ini yang masih merasakan sedihnya belajar di tempat atau gedung yang nyaris roboh, gedung yang setiap hujan pasti bocor, gedung yang sarana pendukungnya kurang. Alangkah apiknya apabila dana tersebut dialihkan untuk memperbaiki gedung-gedung sekolah dan menambah sarana pendukung kegiatan sekolah. Dengan dana yang besar, rasanya ratusan bahkan ribuan sekolah dapat diperbaiki. Tentu saja ini berimbas kepada